Rabu, 11 Desember 2013

Wakasad: Bangsa Indonesia harus tetap mewaspadai bangkitnya komunis

Renungan suci memperingati 48 tahun pemberontakan G 30 S PKI, berlangsung di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin malam (30/9/13). Acara ini cukup khusuk lantaran diisi  pengajian dan tahlilan.
Menurut  Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjend TNI M Munir, bangsa Indonesia harus tetap mewaspai bangkitnya komunisme dalam berbagai bentuk. Hal ini harus ditanamkan dalam setiap sanubari bangsa Indonesia, karena pada dasarnya komunisme tidak akan pernah mati.
“Pemberontakan PKI terhadap pemerintah yang sah untuk mengganti dengan ideologi komunis,” kata Wakasad.
Acara ini, menurutnya, menjadi momentum penyadaran upaya untuk meredam kembali, dan membangkitkan paham bahwa komunis harus diwaspadai. “Bahkan, metamorfosa masyarakat dengan kebebasan, hukum dan HAM, bahkan meninjau kembali UUD,” kata Wakasad.
Lebih lanjut Wakasad menegaskan, paham komunis memiliki bahaya laten dan sebagai musuh bersama yang harus kita lawan. Untuk itu, perlu membentengi diri dari ideologi komunis yang bisa merusak sendi-sendi kehidupan beragama bagi bangsa Indonesia.
“Kesetiaan menjalankan Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia ini harus menjadikan kita sebagai bangsa Indonesia yang  terlindungi dari segala tipu muslihat komunis,” kata Wakasad, mengingatkan.
“Malam ini, kita merenungi dan mendoakan para Pahlawan Revolusi yang gugur agar diberikan ketenangan di alam barzah. Dan pada tanggal 1 Oktober, kita upacara bersama Presiden RI,” ujarnya.
Sementara itu, Putra (alm) MT Haryono, Rianto Nurhadi mengucapkan terima kasih kepada Kodam Jaya/ Jayakarta yang  melaksanakan doa dan tahlilan dalam memperingati hari Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya .
“Saya selalu ingat sewaktu usia 9 tahun, dan  waktu itu kejadiannya ketika kami terlelap tidur. Pada tanggal 1 Oktober menghadapi penculik, mereka membunuh ayah dengan secara keji. Kejadian tersebut membuat seluruh keluarga korban hancur akibat G 30 S PKI tersebut. Kami kehilangan sang ayah dan bangsa Indonesia juga kehilangan para tokoh pejuang bangsa, karena gugur di tangan para komunis yang ingin menggantikan Ideologi bangsa kita, yakni Pancasila,” kata Rianto.
Dalam kegiatan renungan memperingati G 30 S PKI ini dihadiri Pangdam Jaya Mayjen TNI E Hudawi Lubis, Walikota Jakarta Timur HR Krisdianto, dan keluarga besar almarhum Jenderal TNI Ahmad Yani.

Selasa, 30 April 2013

Lenyapkan Komunis Sampai Tuntas

Walaupun Idiologi Komunis dan segala kegiatan masa lalunya yang telah mencoreng dan melukai bangsa ini dinyatakan telah usai, namun kita patut untuk terus waspada karena boleh jadi Komunis itu bertumbuh dan berkembang dalam bentuk yang lain yang tanpa kita sadari Komunis kembali mengcenkramkan kuku kakinya dan membuat gaduh bangsa ini lagi.

Sebagaimana kita tahu dalam fakta sejarah masa lalu bangsa ini, Gerakan Partai komunis dengan antek-anteknya melakukan sejumlah makar dan pembunuhan secara tidak manusiawi terhadap lawan-lawan politiknya, dan ini pulalah yang mendasari bangsa ini menghukum dan melarang komunis untuk berkembang dalam bentuk apapun, seperti membentuk partai dan penyebarluasan idiologi tersebut ditengah masyarakat.

Kalau dilihat dalam perspektif yang lebih global, negara pengagas Idiologi Komunis seperti Uni Sovyet (Rusia masa lalu) yang dulunya menjadi kiblat Komunis, seiring dengan konsep glasnost” (keterbukaan) dan “perestroika’ (restrukturisasi) pada tahun 1988.digagas oleh Mikail Gorbacev, akhirnya menyebabkan  negara Uni Sovyet menjadi terpecah dan hanya menjadi masa lalu.

Ini menandakan bahwa Idiologi Komunis adalah sebuah idiolagi yang dipaksakan dan pada dasarnya tidak cocok dengan hidup manusia, jadi wajar hampir dibanyak negara termasuk Indonesia  semua membuat masalah dan mendapat perlawanan sengit dari masyarakat.

Gerakan anti komunis  dan beserta anteknya, telah lama digelorakan, semenjak peristiwa makar gerakan 30 S/PKI yang ternyata dalangnya adalah aktivis PKI, semenjak itu rakyat dan pemerintah saat itu kompak untuk melawan dan menghapus gerakan PKI sampai keakar-akarnya.

Pertanyaannya sekarang, masihkah gerakan itu terus berlanjut disaat negara bangsa ini sudah memasuki reformasi politik 1998 ?, kita jangan terlena, merasa komunis sudah runtuh, harus tetap waspada, tidak menutup kemungkinan berubah bentuk dalam yang lain, bagaimapun lenyapkan komunis sampai tuntas

Kamis, 11 April 2013

Kenapa Kita Menolak Komunisme? Oleh : Septiawan


Dengan mudah, lancar dan aman, kita jawab kini tanya itu. Tapi, menjelang 1965, hampir tiap pejabat, birokrat, politikus, wartawan, bahkan cendekiawan sebisa mungkin menolak. Mereka gagap dan was-was. Khususnya di depan lebih tiga orang.

Kenapa? Karena komunisme kuat menghipnose sikap dan pikiran massa. Di baris depan, komunisme bergerak menotalirkan orang-seorang. Merubuhkan kapasitas orang untuk patuh dan takluk. Dan membikin orang mencemooh suara yang menyangkal. Mereka dicetak bagai mesin fotokopi: yang langsung merekam "titah" ke kepala. Dan kepala itu 90 prosen kopong.

Bila Partai Komunis Indonesia mengganyang "Kontrarevolusi", kepala itu bilang "ganyang!" Ketika PKI menyikat Malaysia, kepala itu bilang "sikat!" Ketika PKI meneriakkan "Hidup Lekra", kepala itu berseru "hidup!" Kepala itu berisi pikiran yang cuma siap nyala, untuk tugas dan kewajiban tanpa banyak bertanya. Tidak tahu kepala sama berbulu, warna rambut bisa merah, putih, atawa plontos.

Salah satu kemampuan komunisme memang ada dalam kapasitas menyihir sikap dan pikiran orang, yang dikadernya, terkongkong dalam kategori "lawan vs kawan." Logika nalar yang berada di dua titik ekstrim.

Kepala yang kemudian tak membaca laporan International Herald Time , Juni 1988, menilai rontoknya komunisme karena tua dan sempi dada. Terengah-engah mengejar perkembangan melalui sejumlah pembenaran, hingga pada tahun 80-an Vietnam kelaparan dan buruh Polandia menolak kekuasaan Kelas Buruh.

Tak utuh memahami Cina mengecam kapitalisme, dan mementingkan kesetiakawanan "makan bersama dari kuali yang sama." Mengenyampingkan pembuktian ekonom Xiang Qiyuan, dari Universitas Furen pada 1982, bahwa eksperimen sama-rasa-sama-rata bikin tenaga produktif jadi melempem. Dan Deng Xiao Ping akhirnya memilih memakmurkan Cina hanya untuk segelintir orang, sebagian besar lagi tertinggal."

Dan tak membayangkan pada akhir 80-an, Partai Komunis Cekoslowakia rontok secara ajaib. Setelah 41 tahun berkuasa, dalam jangka sebulan ambruk. Rakyat Cekoslowakia merubuhkan pemerintahan Presiden Husak, memilih Vaclav Havel main sepeda-sepedaan di lorong gedung kepresidenan. Mengangkat seorang sastrawan yang berkata, di negeri di mana kata-kata yang ditulis jujur bisa membuat orang mampir di penjara. Kata-kata justru membuat pemerintah gentar dan rakyat mau dengar. Di mana di negeri orang bebas berkata dan mengkritik, kata-kata boro-boro diperhatikan, apalagi menularkan cemas.

Para Marxis, sejak awal, menolak pikiran "revisionis": gagasan yang hendak bersikap kritis terhadap pokok-pokok ajaran Marx. Mencetak kepala bernalar hitam putih yang anti pada pikiran yang mau menghujat.

Mereka menolak surat seorang Eduard Bernstein, pada 1898 --kepada konggres Sosial Demokrasi Jerman--, yang menegaskan : yang salah tetap salah walau bentrok dengan keyakinan Marx dan Enggels di suatu masa, dan yang benar tetap benar walau keluar dari mulut antisosialis.

Bernstein menulis surat itu setelah melakoni jalan sosialis yang panjang. Setelah, sebagai kader Partai Sosialis Demokrat, menolak sikap keras Kanselir Otto von Bismarck pada kaum sosialis di Berlin. Lalu lari ke Zurich, Swiss, dan meminta memimpin berkala Der Sozialdemokrat-- pegangan partai sosialis bawah tanah saat itu. Lalu lari ke London, bertemu Bapak Kedua Kaum Komunis, Frierdrich Engels, dan terperangah. Nujuman kapitalisme runtuh seusai krisis ekonomi Eropa (1873-1890), ternyata tak kesampaian. Sampai akhir 1890-a, kapitalisme tetap bertahan dan hidup buruh malah membaik.

Surat Bernstein memang ancaman. Ia menyangsikan doktrin pikiran Bapak Pertama Kaum Komunis, Karl Marx --yang wafat Maret 1883 di Highgate, London, dengan meyakini akan terjadinya "periode paling revolusioner" kelak.

Keyakinan yang oleh Lenin, di Rusia, dipegang erat, dalam konsep dan gerak. "Marxisme mengonsep dunia secara monolitik," ujar Lenin. Keyakinan yang membuat kata-kata sajak pun, seperti dikatakan Mao Ze Dong di Cina kemudian harus "berguna untuk sebuah kepentingan politik" - ketika menjawab keresahan penulis Cina tahun 1942. Tulisan Marxis, menurut Roland Barthes, tiap katanya menyempit ke arah seperangkat keras.

Seperangkat asa itu, oleh para pemimpn komunis, digerakkan ke segala penjuru : dari penjuru, cangkul hingga dengkul. Di sebuah tatanan, ia mengipas dari belakang, dan didepan menunjuk paling panjang, menuduh paling tajam. Hasilnya: suasana mencengkeram orang untuk patuh, dengan setengah takut kena dakwa, meyakin-yakinkan diri bukan plin-plan. Suasana tatanan novel 1984, George Orwell, yang continuous frenzy, galau tak henti-henti: digerus ilusi musuh di luar, pengkhianat di dalam, dan sesuatu yang harus "diganyang". Mewaspadai yang "plintat-plintut", "munafik", dan "gadungan", dalam "siskamling" 24 jam terus-menerus.

"Kamus politik " Marxis mengutuk pikiran "revisionis", dengan lantang dan mengemplang. Bila perlu jadi alat bersaing, siapa yang paling muni, antar kolega sendiri. Sampai seorang Mao di Cina mencaci murtad seorang Krushchev di Uni Soviet : "revisionis".

Sebenarnya, adalah wajar bila suatu ajaran ideologis memunculkan "revisionis". Karena biarpun kepala sama berbulu, orang punya latar "ruang dan waktu" berlainan-lainan. Tetapi, ajaran Marxisme sudah bagai agama : setelah menganggap ilmiah, perapalnya merasa kebenaran sudah di tangan. Selebihnya, tinggal soal bertindak.

Para kepala "foto kopi" pun bergerak, merombak. Risih duduk berjuntai di kursi seminar dan diskusi, melainkan seakan angin ribut, mereka harus bergegas. Segala omong ditutup, mulut ribut dipasung. Kesabaran sangat tipis di sini.

Dari mana asalnya? Mungkin berawal dari Karl Marx sendiri.


Karl kecil, menurut seorang penulis, ialah tiran bagi kakak dan adik perempuannya. Anak yang biasa dilecehkan ibunya. Teman yang dicintai sekaligus ditakuti. Meski murid berangka "rata-rata" kelas, ia pintar bersajak yang pedas mencemooh lawan-lawannya. Kepandaian yang tak lekang dimakan waktu sampai ia mati.

Penulis Soviet, Annekov, bertemu Marx di Belgia tahun 1846. Marx dalam umur 28, tulisnya, merupa sosok berambut panjang, tebal dan hitam, serta punya jenis suara berdering mirip logam. Nadanya, nada orang yang yakin "untuk bertahta di atas pikiran manusia dan selalu siap untuk mendiktekan hukum-hukum...." Siratan sosok kukuh, energik, penuh mau, dan biasa bicara dalam tanda seru.

Ada yang menilai, Marx terbawa dongeng Promotheus yang membangkang surga para dewa. Ada yang menganggap cucu Yahudi --yang membeci Yahudi ini, mewarisi sikap garang Nabi Yeremiah dalam Taurat. Tetapi apapun informasinya, Marx yang biasa semrawut+lapar+sakit, punya kesukaan tertentu. Suatu hari seseorang bertanya tentang kebahagiaan yang ia sukai. "Berkelahi, "jawabnya enteng.


Dan kita tahu, Lenin menirunya di Rusia, dan Mao melanjutkannya di Cina. Plus para pengikut menganutinya dengan karakter sikap hitam-putih, tak sabar, dan mekanisme pikiran berpola "kawan vs lawan", "revolusi vs ......"
(http://www.zazuli.20m.com)

Senin, 17 Desember 2012

Dandanan Demokrasi, Kelakuan Komunis



Tentara (baca: TNI) nampaknya paham betul dengan pola-pola gerakan komunis, baik yang radikal maupun yang halus-halus. Sejarahnya memang komunis yang menggunakan kendaraan politik PKI, menempatkan TNI sebagai musuh bebuyutan. Maka menjadi sangat wajar, bila apa yang dilakukan dan diingatkan oleh TNI selalu dihadapi oleh para simpatisan dan penggiat komunis di Indonesia.

Seiring dengan bergulirnya reformasi dan demokrasi, sekarang bisa dilihat betapa getolnya para tokoh PKI, anak-anak dan keluarga, atau komunitas bekas aktivis PKI dalam upaya mewujudkan keinginan untuk meluruskan sejarah sehingga sekarang juga bisa dilihat adanya berbagai versi sejarah G30S 1965 yang bermunculan satu persatu ke permukaan. Hal itu sebenarnya mudah ditebak apa motivasinya, yakni mengubah image bahwa dirinya tak bersalah, atau secara makro bahwa PKI agar dianggap tidak bersalah. Pola seperti ini pun terjadi di hampir semua negara yang pernah bertengger sejarah kebiadaban komunis.

Di Kamboja misalnya, bagaimana kaum Khmer Merah (Khmer Rough) pimpinan Pol Pot yang telah membantai lebih dari 2 juta rakyat Kamboja, lalu mengganti nama menjadi National Democratic Kamphuchea. Hal ini dimotivasi untuk membalikkan image rakyat Kamboja, dan mereka juga ingin meluruskan sejarah agar Khmer Merah dianggap tidak bersalah.

Dalam kasus Indonesia, tentu kita masih ingat, para tokoh dan simpatisan PKI pernah beramai-ramai menerbitkan buku sesuai kisah masing-masing. Semisal  H. Setiawan, mantan aktivis Lekra menulis Memoar Pulau Buru; Kresno Saroso menulis Dari Salemba ke Pulau Buru; Haji Ahmadi Moestahal menulis Dari Gontor ke Pulau Buru, dan Abdul Latief almarhum menulis Pledoi Latief: Soeharto Terlibat G30S. Sejumlah karya ilmiah, baik berupa skripsi maupun makalah turut mewarnai versi sejarah peristiwa G30S 1965. Seluruh kisah itu secara otomatis menjawab sekaligus mempertanyakan kembali keabsahan sejarah G30S 1965 versi Orde Baru.
             
Semua itu untuk memperbaiki namanya agar tidak cemar atau untuk memperoleh dukungan rakyat yang masih bisa dibohongi oleh para simpatisan komunis. Alasan demi demokrasi, hanyalah sebuah cara, mengingat komunis menghalalkan segala cara. 
             
Menjungkirbalikkan tatanan sosial yang mapan adalah ciri-ciri komunis. Slogannya pun mudah ditebak, yakni buruh bersatu tak bisa dilawan, petani bersatu tak bisa dilawan, dan seterusnya. Ini semua adalah ciri khas komunis, yang kini berwajah demokrasi.

Selasa, 27 November 2012

Sikap Umat Islam Terhadap Komunisme



Selama ini masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa komunis telah hilang dari Indonesia. Memang, selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, partai komunis telah tiada, namun yang harus diwaspadai selanjutnya adalah ideologinya yang tetap terus hidup dan eksis hingga saat ini.
"Mereka masih ada dan sedang bergerilya membangun kekuatan lagi, seperti yang dilakukan oleh Ribka Tjiptaning Proletariyat - seorang anak PKI yang berhasil menjadi anggota parlemen dan juga menjabat sebagai ketua Komisi IX DPR-RI. Dia pernah menyatakan bahwa PKI di Indonesia belum pernah membubarkan diri!" Ungkap Ustadz Alfian yang sudah selama 30 tahun ini menjadi pengamat pada masalah-masalah komunisme.
Sementara itu, target utama gerakan muda pengemban paham komunis saat ini adalah menghapuskan jejak sejarah hitam PKI, misalnya dengan menarik peredaran film dan buku-buku yang mengungkapkan sisi buruk mereka, dengan merevisi buku-buku atau tulisan yang mengarahkan mereka sebagai aktor jahat di satu peristiwa seperti misalnya dahulu tertulis G30S-PKI, namun saat ini banyak ditemukan buku-buku yang hanya menuliskan G30S.
Keadaan perekonomian yang morat-marit, munculnya krisis multi-dimensi, anjloknya nilai tukar rupiah, penegakan hukum yang semakin jauh panggang daripada api, serta kebutuhan pokok yang melonjak adalah beberapa hal yang menjadi pemicu tumbuh-kembangnya mereka di tanah-air. Demikian juga sikap masa-bodoh dan kurang pekanya para kaum pemerintahan termasuk para ulama'nya dalam menyampaikan informasi tentang faham sesat tersebut kepada masyarakat luas.
PKI yang telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang dengan TAP MPRS No. 25/1966 itu, saat ini digerakkan oleh tokoh-tokoh neo-PKI, antara lain Budiman Sudjatmiko, Ribka Tjiptaning Proletariyati, Andi Aris, Rike Dyah Pitaloka, dan Desmond Mahesa. Mereka banyak berkecimpung pada pengkaderan massa, baik penghimpunan melalui pendirian LSM, melantangkan hak-hak rakyat dengan senjata HAM, menggalang kekuatan fisik secara besar-besaran sebagai bala-tentara mereka dengan pengindoktrinasian sesatnya.
"Saat ini kaum pengusung komunis sedang ‘kipas-kipas', mereka berusaha menyebar dan menyusup ke setiap lini kehidupan negara ini. Jangan sampai kita tidak tahu apa-apa tentang mereka, jangan sampai kita tidak peduli tentang gerakan gerilya mereka, dan jangan sampai kita tidak siap menghadapi kebangkitan mereka. Komunis akan hidup lagi kalau umat tidak juga bersatu, untuk itu mari galang persatuan!" Tegas Ustadz Alfian.
Sementara itu, Amir MI Ar Royyan, Ustadz Abu M. Jibriel AR. menyatakan bahwa hampir tidak ada sudut dan lini kehidupan rakyat Indonesia melainkan disana ada kader dan pasukan PKI yang siap membantai Islam dan umatnya. Komunisme adalah warisan sesat Karl Marx dan Lenin, ia merupakan ideologi yang bersifat totalitas karena menuntut pengakuan dari penganutnya sebagai satu-satunya pandangan hidup yang mencakup seluruh ranah kehidupan. Dalam ideologi komunis, pandangan hidup bukan lagi menjadi masalah pribadi, akan tetapi sudah menjadi masalah partai.
Partai dianggap telah memegang dan menjaga kemurnian ideologi dan partai menjadi pemegang keputusan terakhir. Para pengikutnya memiliki sifat dogmatis dan sangat militant karena sifat totaliter faham tersebut. Setiap anggotanya wajib menerima ajaran komunis sebagai satu-satunya ajaran kebenaran. Dalam pandangan komunis, Tuhan itu adalah manusia itu sendiri. Oleh karenanya mereka menganggap bahwa pengagungan kepada Tuhan adalah sebagaimana candu dan sumber keterbelakangan.
Ideologi komunis adalah HARAM, alasannya:
1. Karena komunisme tidak mengakui keberadaan Tuhan.
2. Karena komunisme mengkonsep bahwa manusia harus sama.
3.Karena komunisme mengkhususkan kekayaan negara hanya boleh dinikmati oleh para penguasa.
4.Karena komunisme mengharuskan rakyat untuk tunduk-patuh dibawah kekuasaan diktator proletariat.
5.Karena komunisme menjalin persahabatan dengan negara/pemimpin kafir yang memusuhi Islam.
Alhamdulillah, kata Ustadz Abu M. Jibriel AR., TAP MPRS NO. 25/1966 telah memutuskan tentang ketetapan pembubaran Partai Komunis Indonesia, dan mengeluarkan pernyataan bahwa PKI adalah organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia serta menerbitkan larangan terhadap setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembang-kan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.
Menurut Ustadz Abu Jibriel, ada beberapa hal yang patut  umat Islam laksanakan dalam menghadapi tantangan mengglobalnya Komunis, yaitu dengan kembali kepada Islam yang kaffah, memperkuat benteng kesadaran ilmu, mempertebal benteng Aqidah, memperkokoh ukhuwah Islamiyah, serta mempersiapkan semua potensi guna merobek dan menghancurkan angkuhnya para musuh Allah yang menghalangi setiap gerakan tauhid dan jihad fi sabilillah.
Untuk membangkitkan semangat dan keberanian umat Islam, ustad melantunkan beberapa ayat :
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya)  jika kamu orang-orang yang beriman." (Qs. Ali ‘Imron, 3: 139)
"Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Qs. Ali ‘Imron, 3: 146)
"Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Qs. Ali ‘Imron, 3: 147). 

(Sumber: arrahmah.com)