Senin, 17 Desember 2012

Dandanan Demokrasi, Kelakuan Komunis



Tentara (baca: TNI) nampaknya paham betul dengan pola-pola gerakan komunis, baik yang radikal maupun yang halus-halus. Sejarahnya memang komunis yang menggunakan kendaraan politik PKI, menempatkan TNI sebagai musuh bebuyutan. Maka menjadi sangat wajar, bila apa yang dilakukan dan diingatkan oleh TNI selalu dihadapi oleh para simpatisan dan penggiat komunis di Indonesia.

Seiring dengan bergulirnya reformasi dan demokrasi, sekarang bisa dilihat betapa getolnya para tokoh PKI, anak-anak dan keluarga, atau komunitas bekas aktivis PKI dalam upaya mewujudkan keinginan untuk meluruskan sejarah sehingga sekarang juga bisa dilihat adanya berbagai versi sejarah G30S 1965 yang bermunculan satu persatu ke permukaan. Hal itu sebenarnya mudah ditebak apa motivasinya, yakni mengubah image bahwa dirinya tak bersalah, atau secara makro bahwa PKI agar dianggap tidak bersalah. Pola seperti ini pun terjadi di hampir semua negara yang pernah bertengger sejarah kebiadaban komunis.

Di Kamboja misalnya, bagaimana kaum Khmer Merah (Khmer Rough) pimpinan Pol Pot yang telah membantai lebih dari 2 juta rakyat Kamboja, lalu mengganti nama menjadi National Democratic Kamphuchea. Hal ini dimotivasi untuk membalikkan image rakyat Kamboja, dan mereka juga ingin meluruskan sejarah agar Khmer Merah dianggap tidak bersalah.

Dalam kasus Indonesia, tentu kita masih ingat, para tokoh dan simpatisan PKI pernah beramai-ramai menerbitkan buku sesuai kisah masing-masing. Semisal  H. Setiawan, mantan aktivis Lekra menulis Memoar Pulau Buru; Kresno Saroso menulis Dari Salemba ke Pulau Buru; Haji Ahmadi Moestahal menulis Dari Gontor ke Pulau Buru, dan Abdul Latief almarhum menulis Pledoi Latief: Soeharto Terlibat G30S. Sejumlah karya ilmiah, baik berupa skripsi maupun makalah turut mewarnai versi sejarah peristiwa G30S 1965. Seluruh kisah itu secara otomatis menjawab sekaligus mempertanyakan kembali keabsahan sejarah G30S 1965 versi Orde Baru.
             
Semua itu untuk memperbaiki namanya agar tidak cemar atau untuk memperoleh dukungan rakyat yang masih bisa dibohongi oleh para simpatisan komunis. Alasan demi demokrasi, hanyalah sebuah cara, mengingat komunis menghalalkan segala cara. 
             
Menjungkirbalikkan tatanan sosial yang mapan adalah ciri-ciri komunis. Slogannya pun mudah ditebak, yakni buruh bersatu tak bisa dilawan, petani bersatu tak bisa dilawan, dan seterusnya. Ini semua adalah ciri khas komunis, yang kini berwajah demokrasi.