Tentara (baca: TNI) nampaknya paham betul dengan pola-pola
gerakan komunis, baik yang radikal maupun yang halus-halus. Sejarahnya memang
komunis yang menggunakan kendaraan politik PKI, menempatkan TNI sebagai musuh
bebuyutan. Maka menjadi sangat wajar, bila apa yang dilakukan dan diingatkan
oleh TNI selalu dihadapi oleh para simpatisan dan penggiat komunis di
Indonesia.
Seiring dengan bergulirnya
reformasi dan demokrasi, sekarang bisa dilihat betapa getolnya para tokoh PKI,
anak-anak dan keluarga, atau komunitas bekas aktivis PKI dalam upaya mewujudkan
keinginan untuk meluruskan sejarah sehingga sekarang juga bisa dilihat adanya
berbagai versi sejarah G30S 1965 yang bermunculan satu persatu ke permukaan.
Hal itu sebenarnya mudah ditebak apa motivasinya, yakni mengubah image bahwa dirinya tak bersalah, atau
secara makro bahwa PKI agar dianggap tidak bersalah. Pola seperti ini pun
terjadi di hampir semua negara yang pernah bertengger sejarah kebiadaban
komunis.
Di Kamboja misalnya,
bagaimana kaum Khmer Merah (Khmer Rough) pimpinan Pol Pot yang telah membantai
lebih dari 2 juta rakyat Kamboja, lalu mengganti nama menjadi National
Democratic Kamphuchea. Hal ini dimotivasi untuk membalikkan image rakyat Kamboja, dan mereka juga
ingin meluruskan sejarah agar Khmer Merah dianggap tidak bersalah.
Dalam kasus Indonesia, tentu kita masih ingat, para tokoh dan simpatisan PKI pernah beramai-ramai menerbitkan buku sesuai kisah
masing-masing. Semisal H. Setiawan, mantan
aktivis Lekra menulis Memoar Pulau Buru; Kresno Saroso menulis
Dari Salemba ke Pulau Buru; Haji Ahmadi Moestahal menulis Dari Gontor ke Pulau
Buru, dan Abdul Latief almarhum menulis Pledoi Latief: Soeharto Terlibat G30S.
Sejumlah karya ilmiah, baik berupa skripsi maupun makalah turut mewarnai versi
sejarah peristiwa G30S 1965. Seluruh kisah itu secara otomatis menjawab
sekaligus mempertanyakan kembali keabsahan sejarah G30S 1965 versi Orde Baru.
Semua itu untuk
memperbaiki namanya agar tidak cemar atau untuk memperoleh dukungan rakyat yang
masih bisa dibohongi oleh para simpatisan komunis. Alasan demi demokrasi, hanyalah sebuah cara,
mengingat komunis menghalalkan segala cara.
Menjungkirbalikkan tatanan sosial yang mapan
adalah ciri-ciri komunis. Slogannya pun mudah ditebak, yakni buruh bersatu tak
bisa dilawan, petani bersatu tak bisa dilawan, dan seterusnya. Ini semua adalah
ciri khas komunis, yang kini berwajah demokrasi.



ndasmui
BalasHapus