Walaupun
komunisme telah beberapa kali gagal melakukan kudeta di negeri ini, ia tetap
menjadi bahaya laten yang senantiasa akan mengancam. Berbagai peristiwa yang
jauh di masa silam itu kurang menggema di relung hati generasi muda. Padahal bukan
negeri kita saja yang mengalaminya destruksi ideolog marxisme-leninisme-stalinisme-maoisme-polpotisme
ini, namun 75 negara di dunia telah mengalami
secara langsung, secara intensif selama 69 tahun, yaitu 1918-1987, dalam bentuk
kudeta, yang seluruhnya keras dan berdarah.
Mari
kita mulai dari pengalaman berbagai negara yang mengalami destruksi oleh
ideologi komunis. Ternyata fantastik, menurut Pujangga besar Taufiq Ismail
dalam bukunya “komunisme di indonesia ”
yang dipaparkan pada Februari 2010 lalu,
R. J. Rummel guru besar Ilmu Politik di Universitas Hawaii yang
melakukan penelitian telah menemukan bahwa pembantaian yang dilakukan para
pengusung paham komunis mencapai 110-120 juta jiwa di 76 negara. Empat algojo
terbesar ideologi ini adalah Lenin (500 ribu orang), Stalin (46 juta orang),
Mao Tse-Tung (70 juta orang), dan Pol Pot (2,5 juta orang).
Mengapa
mereka sebrutal itu?. Jawabannya terletak pada ”kitab suci” mereka yang
berjudul Manifesto Komunis terbitan tahun 1848 oleh dua anak muda jerman
bernama Karl Marx dan Friedrich Engels. Disana dikatakan bahwa … orang komunis
menganggap tidak perlu menyembunyikan pandangan dan tujuan mereka. Mereka
mendeklarasikan secara terbuka bahwa tujuan mereka merebut kekuasaan hanya dapat
dicapai dengan menggunakan kekerasan, menggulingkan seluruh sistem sosial yang
ada …
Dengan
kata lain, kunci pengusung palu arit sejagat raya adalah “tujuan menghalalkan
segala cara.” maknanya, untuk bisa berhasil mencapai suatu tujuan kerja, cara
apa pun halal untuk dikerjakan, apapun. Dalam prakteknya mereka berdusta,
memutar balik fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut,
menyuap, intimidasi, bersikap keras, berkata kasar, mencaci maki, menyiksa,
memerkosa, merusak, menyabot, membumi hangus, membunuh sampai membantai.
Terkait
dengan moralitas bagaimana?. Lenin menulis ”kami komunis menolak semua
moralitas yang digali dari konsep bukan manusia dan bukan klas, kami tidak
percaya pada moralitas abadi”. Moralitas abadi adalah agama, maknanya seorang
komunis adalah atheis. Kalau pun ada orang palu arit mengaku beragama maka dia
pembohong besar atau komunis palsu atau pasien penyakit syaraf. Moralitas
mereka bisa dilihat dari instruksi Lenin ”tidak jadi soal bila 3/4 penduduk
dunia habis, asal yang tinggal 1/4 itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme,
kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang“.
Dalam
pelaksanaan pencapaian tujuan tersebut, penganut komunisme sedunia telah
mengembangkan keahlian sangat tinggi lewat latihan dan pengalaman dalam
perebutan kekuasaan dengan kekerasan dan berdarah. ‘Geng’ palu arit selama 69
tahun (1918-1987) telah melakukan kudeta dengan kekerasan dan menumpahkan darah
di 75 negara, lebih banyak gagal ketimbang berhasil.
Jadi
hari ini apabila masih ada yang menggelorakan komunisme di negeri ini, mereka
adalah pemasok fikiran bebas tanpa batas dan praktisi gerakan syahwat merdeka.
Jadi mereka inilah yang akan paling keras bersorak untuk tegaknya komunisme di
indonesia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar